HANA

1.5M ratings
277k ratings

See, that’s what the app is perfect for.

Sounds perfect Wahhhh, I don’t wanna

Reactive Lymphoid Hyperplasia (Updated)

Karena banyak yang DM tentang Reactive Lymphoid Hyperplasia ku. Sejujurnya aku sudah lupa kapan benjolan itu hilang, tapi memang bisa mengecil karena  Reactive Lymphoid Hyperplasia (RLH) ini peradangan, yang penyebabnya bisa jadi karena infeksi di gigi, telinga, tenggorokan. Kasusku kemarin sepertinya efek radang di tenggorokan, karena gak lama setelah di biopsi, aku kena radang tenggorokan, batuk. 

Benjolan di kelenjar limfoid ini jadi alarmku kalau kecapekan. Kunci utama biar benjolannya kempes: istirahat yang cukup, makan yang sehat & bergizi (not junk food), be happy alias jangan terlalu stress.

Kabar lucunya, dugaan dokter yang mengira aku terkena hipertiroid benar. 2019, aku terdiagnosa hipertiroid. Alhamdulillah kondisiku sekarang (masih) normal. Waktu itu aku pengobatan satu setengah tahun. Kuncinya, di teratur minum obat, meskipun dalam waktu 3 bulan hormon tiroid sudah normal, gak bisa lepas obat begitu aja karena hormonnya masih belum stabil. 

Lagi-lagi, hipertiroid juga gak lepas dari  istirahat yang cukup, makan yang sehat & bergizi (not junk food), be happy alias jangan terlalu stress, plus teratur minum obat. 

Dulu aku stress banget, bingung sakit apa, di google jarang bahkan cenderung agak ngeri, akhirnya nulis di sini. 

Dari RLH sampe hipertiroid ini aku jadi banyak belajar tentang mengubah gaya hidup yang lebih sehat, terutama makanan. Dulu aku merasa bersalah banget kalau istirahat, ternyata istirahat bagian dari produktivitas. Dulu aku yang asal makan banget, sekarang mulai mikir kadar natrium, gula, protein, karbo, dsb. Olah raga juga, dulu yang jarang, jadi rutinin olah raga tiap hari. 

Semoga segera sembuh yaa teman-teman yang sakit:] jangan lupa minum obatnya dan jangan takut untuk check up rutin.


Taoyuan, 29 Juni 2023

ReactiveLymphoidHyperplasia
onlinecounsellingcollege

Tips for Becoming Mentally Strong

onlinecounsellingcollege

1. Don’t fear being and doing things alone.

2. Keep your focus on the future, not the past.

3. Understand that things take time.

4. Be patient, and keep trying when things are difficult.

5. Don’t fear being judged or criticized by others.

6. Decide to be the author and creator of your life.

7. Don’t let other people determine what you do.

8. Let go of all the thing you can’t control.

9. Learn to both accept, and to manage, your emotions.

10. Take calculated risks, and do what’s new and diiferent.

onlinecounsellingcollege

Some Ways to Improve your Self-Confidence

onlinecounsellingcollege

1. Don’t compare yourself to others. You are totally unique, and have different talents, abilities and strengths.

2. Never criticise or put yourself down. There are plenty of others who will do that for you. You need to be your biggest, and you greatest, fan. Be understanding, gentle and kind to yourself.

3. Consciously accept every compliment you get and see them as accurate and genuinely meant. Don’t brush them off as stupid, wrong, or meaningless.

4. Keep affirming yourself until it changes how you feel. It may feel false at first when you say something like “I accept myself completely– and believe I’m valuable”. But as you constantly repeat it you’ll find that, over time, you do accept and value the person that you are.

5. Surround yourself with positive, encouraging people. If you hang out with people who always put you down, and never seem to like or approve of your ideas, then you’ll soon stop believing in yourself as well (and it will also crush your creativity).

6. Make a list of your successes and accomplishments – like playing an instrument, learning how to cook, passing an exam, graduating from high school, or getting into college, or receiving an award. Review this list often – and be proud of yourself!

7. Make a list of your positive qualities and traits. Are you an honest, reliable and caring friend? Do you make time for others? Do you try to do your best? Again, review this list often, and get into the habit of focusing on your positive qualities and traits.

8. Spend your time doing things that you are good at, and enjoy. We become more alive when we’re doing things we love - and that naturally increases our self-confidence (as we’re being our true selves and not just acting out a role).

9. Get involved. If you sit on the sidelines and avoid all challenges then you won’t be able to achieve much in life. But if you push through the feelings of anxiety and fear, then you’ll grow, be successful, and have higher self esteem.

10. Be true to yourself; live a life that’s really “you”. Don’t let other people decide what you should do, or what is best for you, or who they think that you should be. You only have one life – choose your own path – just be you!

reblog

Sincere love

Hari ini ada tweet yang memantikku untuk buka tumblr lagi untuk tjurhat~ tentang ketulusan ini kayaknya dulu pernah post, lupa di mana. Sebelumnya aku susah berinteraksi dengan orang yang bermulut manis, reaksiku pasti menjauh dan meminimalisir untuk berinteraksi dengan orang itu. Aku lebih menghargai hal yang tidak menyenangkan disampaikan secara jujur daripada ketidakjujuran dikelabui keindahan meskipun maksudnya baik, menyenangkan hati.

Ketulusan itu bisa dirasakan dengan hati, sesepele ngobrolin rasa makanan yang enak atau tidak :] itu bisa kerasa dari hati.. bukan tentang menghargai makanan atau tidak dari segi rasa, tapi kejujuran dan ketulusan.

Tapi sebenernya mau bilang, terima kasih banyak untuk yang bisa mengungkapkan rasa, menyampaikan kelebihan rasa orang lain secara baik. Entah rasa itu terbalas atau tidak :]

If you love someone and your love is sincere, it will bring peace.

Dear you, thank you.

Zhongli, 27 May 2023

ismi-najwa
silminadilah

Days of Griefing

Dunia ada diantara dua garis lurus berdampingan: paus. Ya, the world was on pause.

Gimana rasanya griefing tapi nggak ada manusia yang tahu seberapa dalam duka atau rasa sakit yang kamu alami?

Setelah beberapa waktu, tiba tiba tadi pagi di perjalanan ke kantor aku kepikiran sesuatu:

Sedih itu nggak ada lelahnya, karena memang bukan kata kerja.

Sedih itu ada di udara, sama seperti bahagia mungkin. Sedih nggak memerlukan otot untuk dikerjakan, sedih cuma perubahan suasana hati dan itu normal, kita nggak perlu push diri sendiri dengan bilang, "yuk happy plis yuukk"

Sesekali, beri izin untuk 'doing nothing', instead of pushing our self to be happy, yang akhirnya hanya akan jadi denial dari proses griefing itu sendiri.

Bicara tentang Griefing, tentu yang teringat adalah Nabi Yaqub, ayahanda dari Nabi Yusuf, yang menangis begitu lamanya sampai matanya memutih. Its human, right? Gak usah bilang "I'm okay, let the game begin again.. Don't bother my condition.. "

Hey..

Part pertama dari Griefing adalah Denial. Iya, memang denial. Ketika sesuatu itu begitu berartinya, dan tiba tiba menghilang, kamu akan menolak lalu mempertanyakan, "iiihh Whyy" Gitu.

Setelah Denial, kamu akan menyalahkan diri sendiri atas musibah itu.

Emang sih sebenernya dalam agama sebaiknya cukup ucap innalillahi, lalu lanjutkan hidup. Tapi gimana hidup berjalan selanjutnya, gak ada yang bisa jamin akan tetap terasa sama.

"Coba aja aku dulu lebih hati hati, coba aja dulu aku lebih baik.. Dll" Adalah penyesalan yang sebaiknya sih nggak dilakuin, tapi kita secara naluriah akan auto menyalahkan diri sendiri. Part gaenaknya adalah, fase ini harus dilalui.

Untuk kemudian kita paham, bahwa

1. Hal ini benar benar terjadi, bukan mimpi, bukan prank, tapi memang takdirnya begini, cukup sampai disini usianya, masanya, jatahnya.

2. Ini semua bukan salahmu, seperti kata Kunto Aji. sesuatu yang memang seharusnya terjadi, akan terjadi, dan sesuatu yang kamu paksakan untuk terjadi, jika memang belum waktunya, tidak akan terjadi.

3. Terima kenyataannya, sesedih apapun banyak momen terlintas, kenyataannya yang sudah selesai, yang sudah pergi, yang sudah tiada, tidak bisa terus membuatmu berhenti.

4. Live with it. Hidup dengan kenyataan bahwa ada satu rumpang dalam cerita menyenangkan yang akan kamu kenang. Ada sesuatu yang tidak lagi ada (?), ada seseorang yang pernah begitu berarti tapi kini dia tidak lagi bisa hadir. Mungkin kamu sewaktu waktu akan berterima kasih, Terima kasih karena pernah singgah di hidup saya dan memberi banyak arti. Mungkin kamu akan mengutuk, mengapa begitu cepat kamu pergi tanpa sempat kita lakukan hal hal bersejarah. Mungkin kamu akan mengenangnya dalam duka, kasihan, karena mimpi mimpinya belum sepenuhnya ia penuhi, atau karena kamu sampai kapanpun tidak akan lagi bisa membantunya mewujudkan yang ia inginkan.

Grieving has really take my joy.. My money.. My life.. My sense of humor.. My willingness to do so many things..

And I'm still sad, after several of months. I'm not okay with this, I'm struggling everyday.. Telling my self that I need to live the day, for everyone I love, for half of my dream (cause another one has been taken away).

Tapi tetap bersyukur, apapun yang sudah berlalu, ternyata membuat hati kita semakin lembut.

Dan menyadari, bahwa yang menjaga kita, tidak pernah lupa memberikan kita kekuatan menjalani hari hari yang berat.

Days of griefing, seperti nabi Yaqub, saya rasa tidak ada waktu pasti kapan duka akan membaik atau bahkan pergi seutuhnya, mungkin tidak akan. Tapi hari hari tetap layak dijalani dengan rumpang di sana dan sini.

herricahyadi

windyokta19 asked:

Assalamu'alaikum kak. Menurut kak herry lebih sakit mana? Sakit karena kepercayaannya dikhianati atau sakit karena kehilangan seseorang atau sesuatu? Wajar enggak sih kak kalo hidup kita seperti tiada harapan?

herricahyadi answered:

Hidup Tanpa Harapan, Wajar, Kah?

Wa'alaikumsalam wr wb

Menurut saya, sakit karena keduanya tidak bisa dikomparasi. Karena sakit dan dampak dari keduanya itu bisa membuat kita trauma. Kadang, dampak trauma ini lebih menyakitkan ketimbang saat kita kehilangan. Sementara keduanya itu sama-sama kehilangan. Yang satu kehilangan kepercayaan; yang satu kehilangan harapan.

Tidak banyak yang kita bisa perbuat soal ini. Apakah kita harus membatasi kepercayaan terhadap orang lain? Tentu tidak. Karena orang lain tidak akan sama dan kita tentu tidak juga sesial itu menemukan pengkhianat baru. Atau, apakah kita tidak akan pernah mencoba untuk memiliki karena takut kehilangan lagi? Tentu tidak. Karena orang lain bisa jadi justru menghalangi kita pergi.

Hidup seperti tiada harapan? Ya tidak wajar. Yang wajar itu adalah kamu dianggap terlalu polos untuk menyerahkan harapan sepenuhnya kepada manusia. Jangan. Sisakan ruang kecewa agar kelak kita siap menerima kegagalan baru–yang akan menjadikan kita lebih dewasa. Lebih siap menerima lebih banyak harapan yang dipatahkan. Sampai kita sadar bahwa itu semua sungguh percuma.

Lalu kamu kembali kepada-Nya dengan tergesa-gesa. Sepenuh penyesalan. Kemudian, tersadar bahwa Tuhan yang menciptakanmu bahkan telah jauh-jauh hari berkata:

“…dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. 94: 8)

hanhanaa

Pernah ada yang bilang ke orang lain, “Jadi, salah ya kalau saya berharap lebih sama kamu?”. Lupa waktu itu tentang apa, yang jelas bukan percintaan. Dalem hati jawab salah, karena berharap ke manusia, beda cerita kalau ke Allah, tapi waktu itu diem aja sih akhirnya, bingung jelasin & takut salah ngomong. Gimana pun, ekspetasi/harapan orang lain kita ga bisa kontrol, sebaliknya berharap apapun biar ga kecewa, berharap sama Allah. Reblog buat reminder.

Persiapan PhD

Akhir-akhir ini overthinking tentang beberapa komentar tentang menyegerakan lanjut sekolah (master & PhD). Makin ke sini bukan dapet pernyataan tentang kapan nikah, tapi makin banyak tentang kapan PhD.. yang menurutku lanjut sekolah & menikah tuh 11:12, sama-sama butuh persiapan. Sebenernya tutup telinga sambil berusaha yang terbaik buat persiapannya kalau lanjut lagi sih, tapi pingin nulisin yang lebih rapi di sini. Ini terlepas tentang administrasi dan pingin daftar di mana ya.

Hal nomor satu yang harus disiapin itu mental, ini aku bicara sebagai mahasiswa lab basah di Asia Timur, di mana ada prof yang suka dengan budaya kerja keras. Siap harus nginap atau hampir 24/7 di lab, itu bisa jadi ada stress tersendiri. Penelitian juga bisa jadi ga mulus, ada experiment yang gagal dan ngulang, berhadapan dengan budaya yang berbeda. Haruuuus disiapin banget.Tips biar ga 24/7 di lab, dari diri kita sendiri pintar-pintar atur jadwal sih. Penting banget buat belajar stress management sih kalau ini, biar ga depresi atau kena mental illnes lainnya.

Yang kedua yang harus disiapin, skill. Masih inget banget, waktu ada adik tingkat (undergraduate) mau langsungan ke PhD ke Amerika, dia sempat agak insecure ga ketrima & berat jalani PhD, kebetulan mentor kami sama, terus kita sama-sama dinasehati, mungkin akan berat di tahun pertama PhD kalau belum punya skill sama sekali, seperti apa yang kualami waktu master kemarin, banyak hal tentang membran dan ujinya yang belum kuketahui. Skill tentang uji-uji penting banget, beda sama di Indonesia yang selalu kirim ke lab tertentu, gak nguji sendiri. Skill ini ga cuma tentang experiment aja sih, bahasa juga, entah itu bahasa Inggris atau bahasa asing lain yang dipakai. Di pengalamanku, bahasa Inggris emang membantu, tapi kalau ga sekalian belajar bahasa Asingnya, rasanya kurang deep, banyak hal yang mendasar dan bagus yang disampaikan dalam bahasa asing selain bahasa Inggris (which in Taiwan using mandarin). Skill lain yang diperlukan, menulis. Waktu ikutan sharing tentang menulis, aku dapet insight lain tentang publish paper selama PhD. Jadi ternyata ada dua tipe mahasiswa, satu yang dia sekedar publish paper hanya memenuhi persyaratan kelulusan, yang kedua sengaja kuliah PhD lama untuk belajar menulis paper yang bagus, branding yang baik ke publisher, di mana ini yang sangat membantu untuk karir ke depan. Waktu dikasih tau itu, aku ter W-O-W dan bener juga. Ini juga nasehat dari profesorku, memilih menjadi mahasiswa yang mana, dikembalikan ke aku lagi. Gak heran kalau mahasiswa lokal banyak yang lulus lama, sekitar 7 tahun untuk PhD, padahal kalau liat dari syarat publish papernya udah cukup. Tips lain, kalau pingin lulus on time, siapin draft paper yang mau di publish, dan pastikan siap submit di tahun pertama, ini ngebantu banget dari pengalaman beberapa orang.

Yang ketiga, persiapan finansial. Habis ngulik-ngulik tentang conference sama temen, oh yaa penting buat ngulik conference juga, kalau ini salah satu syarat kelulusan. Biar ga kaget, list berapa budgetnya & gimana fundingnya, entah dari lab, kampus, atau pemerintah setempat. Habis list, biaya dari Taiwan ke Eropa lumayan bangettt xD

Sejauh ini cuma tau beberapa hal di atas buat persiapan PhD (selain persiapan administrasi untuk diterima. Sama kayak gimana cara jawab pertanyaan kapan nikah sih, senyum & diam-diam persiapan ajaa kalau udah beneran mantap lanjut studi. Tapi juga pingin bilang, please jangan nyuruh-nyuruh lanjut kuliah doang kalau gak mau mentorin, sering ketemu anak s1 yang masih terombang-ambing gimana cara daftar kuliah ke LN. Karena ya tadi, nomor satu yang dipersiapin buat lanjut studi, apalagi ke LN itu mental. Kalau nyuruh lanjut & ga dibimbing, terombang-ambil, beresiko banget ke mental. 

Zhongli, 29 Agustus 2022

dinisuciyanti
dinisuciyanti

Passionate #2

“Tentukan studi sesuai minat. Lebih baik lagi, sudah punya basic knowledge and skills. Jangan tergiur, “ada lowongan PhD, ambil ah”. Apalagi yang tidak sesuai minat dan basic skills. Risk your mental health. PhD accelerates your competence, bukan gaya-gayaan.”, kata pak fuad.

Aku pernah di posisi apply banyak PhD vacancy yang lagi buka. Apply aja yekan. Walau gak ngerti banget soal topiknya, at least aku punya skills data analysis dan background nutrition. Dari sekian banyak PhD vacancy yang ku apply, ya belum ada yang nyangkut sih. Terakhir aku apply dengan topic nutrigenomics, yang gak pernah ingin aku sentuh, tapi aku coba-coba daftar aja, kali nyangkut. Intinya aku mencoba flexible, tentu dengan melihat background dan skills ku yang bisa support. Tapi ternyata, mungkin itu cara yang kurang benar. Jangan karna ingin PhD, topic apapun diambil. No. Do a topic that you’re passionate about.

Akhirnya aku sampai pada topik yang menarik dan potential ke depannya, dengan isu yang sekarang ini mulai terdengar ramai. Indeed, I have no idea about the big topic, but when I read the literature, I got the insight. Aku punya skill data analysis yang sedang ingin ku improve, terlebih dietary data, population-based studies. Aku juga sedang ingin mencari side ilmu baru untuk di-integrasi-kan dengan nutrition. Karna rasa-rasanya, sudah cukup 6th ini terus-terusan nutrition dan kerjaan pun masih berkutat di hal yang sama. 

Semoga, ini menjadi jalan untuk ke depannya. Aku enggak tau akan tembus apa enggak dengan topik ini, yang pasti, I’ll do my best. 

18 Agustus 2022

hanhanaa

Lagi overthinking ini, tiap discuss selalu dapet jawaban yang kayak di share kayak gini plus “don’t risk your mental health”. Gak cuma phd, master juga sebenernya, meskipun master 2 tahun doang.

Topic alhamdulillah ada, tapi problem dari dulu ada di bahasa. Bismillah yukkk, menuju #2023 lancar bahasa mandarin.

hanhanaa

Promosi Kampus / Sekolah

hanhanaa

Jujur, buatku itu beratt banget buat bilang “ayo kuliah di  univ/ sekolah xxxx aja”. 

Lebih seneng buat ditanya testimoni kampusnya, ditanya kampusnya gimana.

I’ve trust issue kata-kata marketing yang menunjukkan sisi positive, tiap ditawarkan sesuatu dan yang kutau positifnya, selalu ada negative thinking, kayak apa bener yang diomongin itu? minus dari kampus/ produknya apa?

Kenapa gak mau bilang kuliah di sini aja? Karena, mungkin bagiku aku bisa menerima hal di kampus itu, dari sisi positif dan negatifnya, orang lain belum tentu. Gak sedikit aku tau orang yang akhirnya ‘berjuang’ di kampus itu, entah secara finansial karena beasiswa yang dijanjikan hanya pemanis di awal sampai kena mental health. 

Ya emang sih, harusnya yang mau sekolah itu yang cari tau calon tempat sekolahnya gimana, tapi buatku ada beban moral tersendiri kalo ternyata gak cocok di orang lain, apalagi sampai yang bersangkutan harus berjuang banget entah dari sisi finansial atau mental. Apalagi buat yang mau kuliah di negara yang muslim jadi minoritas, udah kepikiran makanan halalnya yang bersangkutan, jangan sampai… jauh-jauh kuliah apa yang dimakan berubah campur gak cek dulu kehalalannya.

Untuk siapapun, kalau kalian mau lanjut sekolah, entah itu di Indonesia atau di luar negri, please double check tentang calon kampus se detail-detailnya. Mulai dari pendaftaran, syarat lulusnya gimana, lingkungan di sana gimana, culture di kampus/sekolah itu gimana. Lanjut studi bagiku aja udah berat, jangan ditambahi hal-hal yang ganggu tujuan utama itu. 

hanhanaa

Mau nambahin, gak mau promo kampus karena kepingin orang lain memilih kampus dengan penuh kesadaran, gak kemakan promo.

Banyak loh case orang terjebak promo kampus, gak tanya ulang culture di sana gimana akhirnya shock culture banget di tempat baru itu. Kalau shock culture nya gak berdampak ke mental, alhamdulillah, kalo berdampak. hmm. 

Bukannya gak bangga sama almamater sendiri, tapi dasarnya aku emang bukan orang yang suka motivasi, caraku motivasi pake demotivasi dan aku pingin orang lain milih calon kampusnya penuh kesadaran.

Nyuruh lanjut studi tapi gak di guide itu ibarat orang maksa buat nikah doang/ julid in orang jomblo yang belum nikah tapi gak dampingi buat mempersiapkan. Buat temen-temen dosen kalau minta tolong buat motivasiin mahasiswanya untuk lanjut studi, sorry I’m not the right person.

random thoughts